Kalau kita perhatikan, hampir semua aktivitas digital saat ini selalu diawali dengan satu hal, yaitu mencari.
Ketika ingin membeli handphone baru, kita mencari ulasan di Google atau YouTube. Saat ingin membeli sepatu, kita mencarinya di marketplace. Ketika ingin mencari tempat makan yang enak, kita mengetikkan kata kunci di Google Maps atau melihat rekomendasi di TikTok. Bahkan ketika ingin memahami suatu topik, semakin banyak orang yang mulai bertanya kepada AI seperti ChatGPT atau Gemini.
Di balik semua aktivitas tersebut, ada sebuah sistem yang bertugas memahami apa yang kita cari, lalu memberikan rekomendasi yang paling relevan. Sistem itulah yang disebut search engine.
Apa Itu Search Engine?
Search engine adalah sebuah sistem yang dirancang untuk membantu pengguna menemukan informasi yang mereka butuhkan berdasarkan kata kunci atau query yang dimasukkan. Search engine yang paling banyak digunakan saat ini adalah Google.
Ketika seseorang mengetikkan kata “sepatu lari terbaik”, Google akan menganalisis miliaran halaman website yang sudah tersimpan di databasenya, kemudian memilih halaman-halaman yang dianggap paling relevan untuk ditampilkan kepada pengguna.
Google memang menjadi search engine yang paling populer saat ini. Namun sebenarnya masih ada beberapa search engine lain seperti Bing, DuckDuckGo, Yahoo Search, hingga Brave Search yang menggunakan prinsip kerja yang relatif sama, yaitu membantu pengguna menemukan informasi yang paling relevan berdasarkan kata kunci yang mereka masukkan.
Halaman yang menampilkan daftar hasil pencarian tersebut dikenal dengan istilah Search Engine Results Page (SERP). Setiap website yang muncul di halaman tersebut telah melalui proses seleksi berdasarkan berbagai faktor yang digunakan oleh search engine untuk menentukan kualitas dan relevansi sebuah halaman.
Search Engine Tidak Hanya Google
Kalau definisi search engine kita perluas, sebenarnya konsep ini tidak hanya dimiliki oleh Google atau Bing.
Hampir semua platform digital yang memiliki kolom pencarian dan mampu memberikan rekomendasi hasil pencarian dapat dikategorikan sebagai search engine.
Misalnya:
- TikTok membantu pengguna menemukan video.
- YouTube membantu menemukan video dan channel.
- Instagram membantu menemukan akun, reels, maupun hashtag.
- Marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Blibli membantu pengguna menemukan produk yang ingin dibeli.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, platform AI seperti ChatGPT, Gemini, maupun Perplexity mulai digunakan banyak orang sebagai alternatif untuk mencari informasi.
Perbedaannya terletak pada objek yang dioptimalkan.
Pada Google, kita mengoptimalkan website agar muncul di hasil pencarian. Sedangkan pada TikTok, Instagram, YouTube, atau marketplace, kita mengoptimalkan konten maupun halaman yang berada di dalam platform tersebut.
Karena itu, konsep SEO saat ini berkembang menjadi lebih luas. Tidak lagi hanya berbicara tentang Google, tetapi bagaimana membuat konten kita mudah ditemukan di berbagai platform tempat pengguna melakukan pencarian.
Apa Itu SEO (Search Engine Optimization)?
Search Engine Optimization (SEO) adalah proses mengoptimalkan website agar lebih mudah dipahami, diindeks, dan direkomendasikan oleh search engine kepada pengguna yang tepat.
Banyak orang mengira tujuan SEO hanyalah membuat website berada di posisi pertama Google. Padahal ranking hanyalah salah satu indikator keberhasilan.
Tujuan utama SEO adalah meningkatkan visibilitas website di hasil pencarian sehingga mampu mendatangkan traffic yang relevan, menghasilkan potential leads, hingga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.
Inilah alasan mengapa SEO menjadi salah satu strategi yang sangat penting dalam digital marketing. Ketika website mampu muncul di hadapan orang yang memang sedang mencari produk, layanan, atau informasi yang kita tawarkan, peluang untuk mendapatkan pelanggan baru menjadi jauh lebih besar.
SEO Adalah Bagian dari Digital Marketing
SEO merupakan salah satu channel dalam digital marketing, sejajar dengan social media marketing, email marketing, digital PR, affiliate marketing, maupun digital advertising.
Yang membedakan SEO dengan channel lainnya adalah sumber traffic-nya. SEO berusaha mendatangkan pengunjung melalui hasil pencarian organik, yaitu pengunjung yang datang secara gratis tanpa kita harus membayar untuk iklan.
Banyak perusahaan menjadikan SEO sebagai investasi jangka panjang. Mereka berinvestasi dalam pengembangan website, pembuatan konten berkualitas, serta membangun kredibilitas dan authority brand. Ketika sebuah website berhasil memperoleh visibilitas yang baik di search engine, website tersebut dapat terus mendatangkan traffic organik secara berkelanjutan tanpa harus membayar biaya iklan untuk setiap klik yang diterima.
Namun perlu dipahami bahwa “gratis” bukan berarti tanpa biaya. Dalam praktiknya, SEO tetap membutuhkan investasi, mulai dari pengembangan website, pembuatan konten, optimasi teknis, analisis data, hingga sumber daya manusia yang mampu menjalankan strategi tersebut secara konsisten.
Perbedaan SEO dan SEM
Masih banyak orang yang menganggap SEO dan SEM (Search Engine Marketing) adalah dua strategi yang saling bertentangan.
Padahal sebenarnya tidak demikian.
SEM adalah strategi pemasaran yang memanfaatkan search engine sebagai media untuk menjangkau calon pelanggan. Di dalam SEM terdapat dua pendekatan utama, yaitu SEO (Search Engine Optimization) dan PPC (Pay Per Click).
Dengan kata lain, SEO merupakan bagian dari SEM, bukan lawannya.
Perbedaan Cara Kerja SEO dan PPC
Walaupun sama-sama muncul di halaman hasil pencarian Google, SEO dan PPC bekerja dengan cara yang berbeda.
SEO berusaha memperoleh visibilitas melalui proses optimasi website agar memenuhi kriteria yang digunakan oleh Google dalam menentukan hasil pencarian organik.
Sebaliknya, PPC memungkinkan website muncul di area iklan dengan cara membayar setiap klik yang diperoleh. Hasil iklan biasanya ditandai dengan label Sponsored atau Hasil Bersponsor, sehingga mudah dibedakan dengan hasil pencarian organik.
Keunggulan terbesar PPC adalah hasilnya dapat diperoleh dalam waktu yang relatif singkat. Setelah kampanye disetujui oleh Google, iklan sudah dapat tampil kepada target audiens yang ditentukan.
SEO memiliki karakteristik yang berbeda. Hasilnya memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi ketika strategi dijalankan dengan baik, website dapat memperoleh traffic organik secara konsisten tanpa harus membayar biaya untuk setiap pengunjung yang datang.
Karena alasan tersebut, banyak perusahaan menggabungkan SEO dan PPC dalam satu strategi pemasaran. PPC digunakan untuk memperoleh hasil dalam jangka pendek, sedangkan SEO dibangun sebagai aset digital yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Bagaimana Cara Kerja Google Search?
Agar sebuah website dapat muncul di halaman hasil pencarian, Google harus melalui tiga proses utama, yaitu crawling, indexing, dan ranking.
Ketiga proses tersebut terjadi sangat cepat. Ketika kita mengetikkan sebuah kata kunci, Google mampu memilih halaman terbaik dari miliaran halaman website hanya dalam hitungan kurang dari satu detik.
Di balik proses yang terlihat sederhana tersebut, sebenarnya terdapat sistem yang sangat kompleks.
Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana algoritma Google bekerja. Namun kita bisa membantu Google memahami website kita dengan lebih baik. Semakin mudah Google memahami isi website kita, semakin besar peluang halaman tersebut muncul pada hasil pencarian yang relevan.
Karena itulah SEO tidak bisa hanya berfokus pada satu aspek, misalnya sekadar membuat artikel atau mencari backlink. Website harus dioptimalkan secara menyeluruh agar memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna sekaligus mudah dipahami oleh search engine
Bagaimana SEO Membantu Google Memahami Website Kita
Banyak orang menganggap SEO hanya tentang menulis artikel atau mencari backlink. Padahal dua aktivitas tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan proses optimasi. Tapi, kalau kita melihat kembali bagaimana Google bekerja, sebenarnya akan lebih mudah memahami mengapa SEO memiliki banyak sekali aktivitas.
SEO pada dasarnya adalah serangkaian aktivitas yang bertujuan membantu Google menemukan, memahami, menyimpan, dan merekomendasikan website kita kepada pengguna yang tepat. Karena itulah, ruang lingkup SEO selalu mengikuti bagaimana cara Google melakukan proses crawling, indexing dan ranking.
Tahap 1 — Membantu Google Menemukan Website (Crawling)
Tahap pertama yang dilakukan Google adalah crawling.
Pada tahap ini Google menggunakan sebuah program yang disebut Googlebot untuk menjelajahi internet dan menemukan halaman-halaman website.
Bayangkan Googlebot seperti seorang kurir yang sedang mengantarkan paket ke seluruh kota. Agar kurir tersebut dapat menemukan rumah kita dengan mudah, tentu kita harus memberikan alamat yang jelas, jalan yang terbuka, serta petunjuk menuju lokasi.
Hal yang sama juga berlaku pada website.
Semakin mudah Googlebot menjelajahi website kita, semakin mudah pula Google menemukan halaman-halaman penting yang kita miliki. Apabila Googlebot tidak dapat mengakses sebuah halaman, maka besar kemungkinan halaman tersebut tidak akan pernah masuk ke proses berikutnya, yaitu indexing.
Karena itu, beberapa aspek teknis yang harus diperhatikan pada tahap crawling antara lain:
- Menyediakan file robots.txt, untuk memberi tahu Google halaman mana yang boleh dan tidak boleh di-crawl.
- Membuat file XML Sitemap, sebagai peta yang membantu Google menemukan halaman-halaman penting lebih cepat.
- Memasang Internal Linking di setiap halaman website, agar Googlebot dapat berpindah dari satu halaman ke halaman lainnya secara efisien.
- Status Code (200, 301, 404, 500), untuk memastikan halaman dapat diakses tanpa kendala.
Bayangkan kita telah menulis artikel terbaik di internet, tetapi Google tidak pernah berhasil menemukannya. Sebagus apa pun isi artikel tersebut, halaman itu tidak akan pernah muncul di hasil pencarian.
Karena itulah technical SEO selalu menjadi fondasi sebelum kita berbicara tentang content maupun backlink.
Tahap 2 — Membantu Google Memahami Website (Indexing)
Setelah berhasil menemukan halaman kita, pekerjaan Google belum selesai.
Google masih harus memahami isi halaman tersebut sebelum memutuskan apakah halaman tersebut layak disimpan di dalam database pencariannya. Proses inilah yang disebut indexing.
Pada tahap ini Google akan membaca hampir seluruh elemen penting yang ada pada halaman, mulai dari judul, isi artikel, struktur HTML, gambar, internal link, hingga metadata.
Google juga akan mengidentifikasi apakah halaman tersebut memiliki konten yang unik atau justru merupakan duplikasi dari halaman lain. Jika ditemukan beberapa halaman dengan isi yang sangat mirip, Google biasanya hanya akan memilih satu halaman sebagai versi utama dan mengabaikan sisanya.
Karena itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap indexing antara lain:
- kemampuan rendering halaman, terutama jika website banyak menggunakan JavaScript,
- penggunaan title tag dan meta description yang jelas,
- penggunaan canonical tag untuk menghindari duplikasi konten,
- struktur heading yang rapi,
- kualitas konten yang benar-benar dapat dipahami oleh Google maupun pengguna.
Tahap ini dapat diibaratkan seperti pustakawan yang sedang mengelompokkan buku ke dalam rak perpustakaan. Jika informasi pada buku tidak jelas, judulnya membingungkan, atau isinya sama dengan buku lain, tentu akan lebih sulit bagi pustakawan untuk mengelompokkannya dengan benar.
Tahap 3 — Membantu Google Memilih Website Kita (Ranking)
Inilah tahap yang paling kompleks dalam seluruh proses SEO.
Ketika seseorang mengetikkan sebuah kata kunci, Google harus mengambil keputusan hanya dalam waktu kurang dari satu detik.
Bayangkan seseorang mencari kata “sepatu lari terbaik”. Sebelum menampilkan hasil pencarian, Google harus menjawab beberapa pertanyaan.
Apa sebenarnya yang sedang dicari pengguna? Apakah mereka ingin membeli sepatu? Mencari ulasan? Membandingkan merek? Atau hanya ingin mengetahui rekomendasi sepatu lari?
Setelah memahami maksud pencarian tersebut, Google mulai mencari ribuan bahkan jutaan halaman yang relevan dari databasenya.
Selanjutnya Google akan membandingkan kualitas setiap halaman.
Halaman mana yang memberikan informasi paling lengkap dan revelan? Apakah website tersebut terpercaya? Apakah kontennya benar-benar menjawab kebutuhan pengguna? Apakah website tersebut memberikan experience yang bagus untuk user?
Pada tahap akhir, Google juga mempertimbangkan konteks pengguna, seperti lokasi, bahasa yang digunakan, hingga preferensi pencarian sebelumnya.
Semua proses tersebut terjadi dalam hitungan kurang dari satu detik.
Sebagai SEO specialist, kita tidak dapat mengubah cara Google mengambil keputusan. Namun kita dapat memengaruhi dua hal yang paling penting.
Pertama, memastikan konten kita benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna. Kedua, memastikan website memberikan pengalaman terbaik ketika dikunjungi. Dua aspek inilah yang menjadi fokus utama sebagian besar aktivitas SEO modern.
Macam-macam Strategi SEO
Setiap model bisnis memiliki strategi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut umumnya dipengaruhi oleh perilaku pengguna yang menjadi target pasar bisnis tersebut. Begitu pula dengan SEO. Setiap jenis website dan model bisnis membutuhkan pendekatan optimasi yang berbeda agar mampu memberikan hasil yang maksimal.
Strategi yang saya sampaikan di bawah ini hanyalah sebagian kecil dari banyak pendekatan SEO yang dapat diterapkan. Sangat mungkin masih ada berbagai strategi lain yang lebih kreatif untuk memanfaatkan peluang yang belum ditemukan oleh kompetitor maupun praktisi SEO lainnya.
Website Artikel / Informasi Umum
Pada jenis website ini, fokus utama biasanya berada pada strategi content. Keyword research untuk menemukan topik yang sedang berkembang atau memiliki minat pencarian tinggi menjadi aktivitas yang harus dilakukan secara konsisten. Semakin lengkap dan mendalam informasi yang disediakan, semakin besar pula peluang website memperoleh visibilitas yang baik di hasil pencarian Google. Pendekatan seperti ini sering disebut sebagai semantic content strategy.
Sebagai contoh, misalkan kita memiliki website tentang otomotif dan saat ini sedang ramai diperbincangkan teknologi baru pada mobil listrik. Kita tidak hanya membuat satu artikel tentang teknologi tersebut, tetapi juga mengembangkan berbagai topik turunannya, seperti siapa penemunya, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya, teknologi pendukung yang digunakan, hingga dampaknya terhadap industri otomotif.
Semakin lengkap pembahasan yang kita sediakan, semakin kuat pula positioning website kita sebagai sumber informasi yang relevan di mata Google.
News Portal
Strategi SEO pada website berita tidak jauh berbeda dengan website informasi umum. Perbedaannya, Google memiliki sistem khusus yang memungkinkan website berita memperoleh visibilitas lebih tinggi untuk pencarian yang berkaitan dengan informasi terkini atau breaking news.
Agar memenuhi kriteria tersebut, website berita perlu memperhatikan beberapa aspek berikut.
- Website cepat diakses, terutama melalui perangkat mobile, agar memberikan pengalaman pengguna yang baik.
- Secara konsisten menerbitkan informasi yang aktual, faktual, dan selalu diperbarui.
- Setiap berita berasal dari narasumber yang kredibel serta dapat dipertanggungjawabkan.
- Identitas penulis atau wartawan ditampilkan dengan jelas untuk meningkatkan kredibilitas konten.
E-commerce
Menurut saya, website e-commerce merupakan salah satu jenis website dengan tingkat persaingan SEO paling tinggi saat ini. Kompetisinya tidak hanya datang dari marketplace besar seperti Blibli, Tokopedia, dan Shopee, tetapi juga dari semakin banyaknya website e-commerce yang fokus pada niche tertentu, seperti JuraganMaterial untuk material bangunan atau K24Klik yang berfokus pada layanan apotek online.
Agar tetap kompetitif, website e-commerce biasanya memanfaatkan hampir seluruh peluang visibilitas yang tersedia di halaman hasil pencarian Google. Misalnya dengan bekerja sama dengan influencer agar muncul pada hasil pencarian video, mengoptimalkan Google Merchant Center untuk meningkatkan visibilitas di Google Shopping, menerapkan structured data pada halaman produk agar memperoleh rich results, serta membuat artikel informatif yang mengarahkan pengunjung menuju halaman kategori maupun halaman produk.
Selain itu, halaman kategori (category page) juga sering menjadi aset SEO yang sangat penting karena mampu menargetkan keyword dengan volume pencarian tinggi sekaligus mengarahkan pengguna ke berbagai produk yang relevan.
Company Profile / B2B
Mengoptimalkan website company profile atau B2B bisa dibilang cukup menantang karena fokusnya berbeda dengan website informasi maupun e-commerce.
Menurut saya, ada dua hal utama yang perlu menjadi perhatian.
1. Expertise Content
Konten yang dibuat belum tentu menargetkan keyword dengan volume pencarian tinggi atau mengikuti topik yang sedang tren. Fokus utamanya justru menjawab kebutuhan calon pelanggan sesuai dengan produk atau jasa yang ditawarkan.
Sebagai contoh, perusahaan yang menyediakan solusi IoT untuk manajemen armada dapat membuat artikel tentang pentingnya memantau kondisi kendaraan secara real-time agar perusahaan dapat mengurangi risiko kerusakan kendaraan akibat keterlambatan perawatan.
2. Branding, Networking, dan Digital PR
Memang aktivitas branding dan PR bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab tim SEO. Namun keduanya memiliki irisan yang cukup besar, terutama dalam membangun kredibilitas dan authority website.
Perjalanan pelanggan pada bisnis B2B umumnya bersifat omnichannel. Calon pelanggan bisa mengenal sebuah perusahaan melalui berbagai media sebelum akhirnya melakukan pencarian di Google untuk mencari informasi lebih lanjut. Hal ini semakin penting bagi perusahaan yang menggunakan nama PT atau nama perusahaan yang kurang familiar sehingga lebih sulit diingat.
Sebagai contoh, sebuah media otomotif menerbitkan artikel mengenai pentingnya GPS untuk manajemen armada. Kemudian perusahaan penyedia solusi IoT memasang artikel sponsor (sponsored content) pada media tersebut. Selain meningkatkan brand awareness, aktivitas seperti ini juga berpotensi memberikan sinyal kredibilitas yang positif bagi website perusahaan.
YMYL (Your Money or Your Life)
Website YMYL (Your Money or Your Life) merupakan salah satu kategori website dengan standar kualitas paling ketat di Google. Bahkan Google menyediakan dokumen Search Quality Rater Guidelines yang membahas secara khusus bagaimana kualitas website YMYL dievaluasi.
Kategori ini mencakup website yang dapat memberikan dampak langsung terhadap kesehatan, keselamatan, kondisi keuangan, maupun kehidupan seseorang. Karena itu, Google menerapkan standar yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis website lainnya.
Beberapa contoh website yang termasuk kategori YMYL antara lain:
- Website kesehatan dan medis, termasuk kesehatan fisik, mental, emosional, informasi obat-obatan, hingga keselamatan pengguna.
- Website yang berkaitan dengan keuangan, seperti perbankan, investasi, asuransi, pinjaman, dan perpajakan.
- Website yang membahas hukum, pemerintahan, maupun berita yang dapat memengaruhi keputusan penting masyarakat.
Untuk website jenis ini, beberapa aspek berikut menjadi perhatian utama.
- Menggunakan gaya bahasa yang profesional dan sesuai dengan topik yang dibahas.
- Konten sebaiknya ditinjau atau mendapatkan masukan dari ahli yang relevan.
- Penulis memiliki latar belakang, pengalaman, atau kompetensi yang sesuai dengan bidangnya.
- Mendapatkan referensi atau penyebutan dari website lain yang juga memiliki kredibilitas tinggi akan memberikan sinyal kepercayaan yang lebih kuat.
Dari beberapa contoh di atas kita bisa melihat bahwa tidak ada satu strategi SEO yang cocok untuk semua jenis website. Perbedaan objective bisnis, perilaku pengguna, dan model bisnis akan menentukan bagaimana sebuah strategi SEO seharusnya dirancang. Karena itu, memahami karakter bisnis menjadi langkah pertama sebelum menentukan strategi optimasi yang akan dijalankan.
SEO, AI Search, dan GEO
Perkembangan Algoritma Google yang Mengubah Cara Kerja SEO
SEO di Indonesia mulai berkembang pesat sekitar tahun 2010-an. Pada masa itu, praktik SEO masih sangat identik dengan optimasi keyword dan backlink. Strategi seperti keyword stuffing serta link building dalam jumlah besar menjadi cara yang paling umum digunakan untuk memanipulasi algoritma Google yang saat itu masih banyak mengandalkan keyword density dan PageRank sebagai sinyal utama.
Akibatnya, perusahaan yang memiliki modal besar cenderung lebih mudah mendominasi hasil pencarian. Semakin banyak konten yang diproduksi dan semakin banyak backlink yang dibeli, semakin besar pula peluang mereka berada di halaman pertama Google.
Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama.
Mulai tahun 2011, Google melakukan perubahan besar melalui serangkaian pembaruan algoritma. Panda diluncurkan untuk mengurangi visibilitas website dengan konten berkualitas rendah, sedangkan Penguin hadir untuk menindak praktik manipulasi backlink yang bersifat spam.
Sejak saat itu, Google terus melakukan penyempurnaan algoritma dengan tujuan yang sama, yaitu memberikan hasil pencarian yang semakin relevan dan bermanfaat bagi penggunanya.
Beberapa pembaruan algoritma yang memberikan dampak besar terhadap dunia SEO antara lain:
- Panda, Penguin, dan Hummingbird, yang mengubah kebiasaan praktisi SEO agar tidak lagi hanya berfokus pada keyword stuffing dan backlink.
- Core Web Vitals (CWV), yang mulai menempatkan pengalaman pengguna (user experience) sebagai salah satu faktor penting dalam proses ranking.
- SpamBrain, yang mampu mendeteksi berbagai bentuk spam, termasuk konten berkualitas rendah yang dihasilkan secara otomatis (auto-generated content).
- Helpful Content System, yang mendorong website untuk membuat konten yang benar-benar membantu pengguna, bukan sekadar dibuat untuk mengejar traffic dari mesin pencari.
Jika kita perhatikan, seluruh pembaruan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu membuat hasil pencarian Google semakin berkualitas dan semakin sulit dimanipulasi.
Perubahan Perilaku Pengguna
Perubahan algoritma Google bukan terjadi tanpa alasan. Menurut saya, sebagian besar perubahan tersebut dipengaruhi oleh tiga hal.
Pertama, masih banyak website yang mencoba memanipulasi hasil pencarian dengan teknik spam.
Kedua, Google ingin terus meningkatkan kualitas hasil pencarian agar pengguna mendapatkan informasi yang lebih relevan.
Dan ketiga, yang menurut saya paling besar pengaruhnya, adalah perubahan perilaku pengguna dalam mencari informasi.
Selama bertahun-tahun, Google menjadi tempat utama ketika seseorang ingin mencari jawaban. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan tersebut mulai berubah.
Munculnya platform AI seperti ChatGPT, Google AI Overview, dan Perplexity membuat pengguna mulai terbiasa memperoleh jawaban secara instan tanpa harus membuka banyak halaman website.
Sebagai contoh, ketika ingin membeli smartphone, seseorang tidak lagi hanya mengetikkan kata kunci seperti “HP terbaik di bawah 5 juta” di Google.
Sekarang mereka bisa langsung bertanya kepada AI.
Saya mencari smartphone di bawah Rp5 juta dengan kamera terbaik, baterai besar, NFC, dan cocok untuk bermain game. Tolong bandingkan beberapa pilihan dan berikan rekomendasinya.
Dalam hitungan detik, AI mampu menyusun jawaban yang merangkum informasi dari berbagai sumber sekaligus.
Perubahan perilaku inilah yang mulai mengubah cara praktisi SEO memandang search engine.
Generative Engine Optimization (GEO)
Perubahan perilaku pengguna tersebut melahirkan pendekatan baru yang mulai dikenal sebagai Generative Engine Optimization (GEO).
Secara sederhana, GEO adalah proses mengoptimalkan konten agar lebih mudah dipahami, dikutip, dan dijadikan referensi oleh platform AI generatif.
Meskipun terdengar baru, secara fundamental GEO tidak jauh berbeda dengan SEO.
Platform AI tetap membutuhkan sumber informasi yang relevan, kredibel, mudah dipahami, dan memiliki reputasi yang baik. Karena itu, sebagian besar prinsip SEO modern masih tetap berlaku, seperti penerapan E-E-A-T, pembuatan helpful content, performa website yang baik, serta membangun reputasi brand yang positif.
Perbedaan utamanya terletak pada cara informasi disajikan.
Jika pada SEO kita berusaha menjawab sebuah keyword atau search intent tertentu, pada GEO kita mulai memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan yang lebih kompleks dan bersifat percakapan (conversational query).
Artinya, struktur konten perlu lebih kaya, mampu menjawab berbagai kemungkinan pertanyaan lanjutan, serta memberikan penjelasan yang lebih komprehensif.
Selain itu, karena AI selalu berusaha memberikan jawaban yang paling akurat, platform AI cenderung mengutamakan sumber informasi yang memiliki tingkat kredibilitas tinggi.
Karena itu, aspek E-E-A-T menjadi semakin penting.
Mulai dari kejelasan identitas penulis, pengalaman dan keahlian yang dimiliki, reputasi perusahaan, referensi dari website lain yang kredibel, hingga berbagai sinyal kepercayaan lain yang dapat menunjukkan bahwa informasi tersebut layak dijadikan rujukan.
Pada akhirnya, saya melihat GEO bukan sebagai pengganti SEO, melainkan evolusi dari praktik SEO yang menyesuaikan perubahan cara manusia mencari informasi.
Fondasi utamanya tetap sama, yaitu membantu mesin pencari memahami bahwa website kita merupakan sumber informasi yang relevan dan dapat dipercaya. Perbedaannya, jika dahulu mesin pencari yang kita optimalkan adalah Google Search, kini cakupannya mulai meluas ke berbagai platform AI generatif.
Apakah SEO Akan Digantikan AI?
Setiap kali muncul teknologi baru, selalu ada satu pertanyaan yang kembali muncul di kalangan praktisi SEO.
“SEO akan mati.”
Ungkapan seperti ini sebenarnya sudah saya dengar sejak bertahun-tahun lalu. Dan sampai hari ini jawaban saya masih tetap sama.
Selama Google Search masih menjadi salah satu cara utama orang mencari informasi, SEO tidak akan mati. Setidaknya tidak dalam waktu dekat.
Yang berubah bukanlah tujuan SEO, melainkan cara kita bermain.
Perubahan seperti ini sebenarnya sudah beberapa kali terjadi.
Ketika Google mulai memperkenalkan Core Web Vitals, fokus praktisi SEO yang sebelumnya didominasi oleh content dan backlink mulai bergeser ke technical SEO. Tiba-tiba hampir semua tim SEO harus lebih sering berdiskusi dengan front-end developer untuk memperbaiki performa website, meningkatkan kecepatan loading, dan memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik.
Saat itu banyak orang juga menganggap SEO berubah total.
Padahal yang berubah hanyalah faktor yang harus lebih diperhatikan.
Hal yang sama sedang terjadi hari ini.
Kehadiran ChatGPT dan berbagai platform AI generatif mengubah cara orang mencari informasi. Pengguna tidak lagi selalu membuka Google lalu mengunjungi beberapa website untuk membandingkan informasi. Sekarang mereka bisa langsung bertanya kepada AI dan memperoleh jawaban yang sudah dirangkum dari berbagai sumber.
Perubahan perilaku pengguna inilah yang kemudian memaksa Google bergerak sangat cepat.
Google menghadirkan AI Overview, terus mengembangkan kemampuan Gemini, dan mulai mengintegrasikan pengalaman pencarian berbasis AI ke dalam Google Search. Menurut saya, langkah inilah yang membuat SEO tetap relevan hingga saat ini.
Google tidak meninggalkan search engine. Google justru mengubah cara search engine bekerja.
